Cardio-PP, Aplikasi Kesehatan Jantung Buatan Mahasiswa ITB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ilustrasi jantung (Thinkstock/Lars Neumann)

Jakarta, CNN Indonesia — Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan sebuah aplikasi kesehatan yang bernama Cardio-PP.

Aplikasi ini diklaim menjadi sebuah asisten kesehatan pribadi yang bisa memberikan informasi dan rekomendasi terkait kesehatan jantung.

Mahasiswa ITB yang tergabung dalam Tim Urban Night ITB ini terdiri dari Royyan Abdullah Dzakiy (Teknik Informatika 2015), Farhan Ghifari (Teknik Informatika 2014), Jabal Logian (Teknik Elektro 2015), dan Nugroho Satriyanto (IF 2014).

“Dengan aplikasi Cardio PP ini maka tak perlu lagi bolak-balik ke dokter ataupun ke rumah sakit, pengguna aplikasi ini bisa segera mengetahui kondisi jantungnya beserta rekomendasi kesehatan pada saat itu juga,” kata Royyan dikutip dari¬†Antara.

Dalam penggunaannya, Cardio PP ini menggunakan tiga komponen yang berkaitan yaitu artificial intelligence (AI), personal heart assistance, dan device dengan sensor ECG, Kemudian ada aplikasi yang digunakan termasuk ECG Rate Monitor, Heart Condition, Assistance, dan Hospital GIS.

Untuk memakainya, sebuah alat yang sudah dilengkapi dengan sensor ECG harus diletakkan di beberapa titik khusus di tubuh. Alat tersebut akan memantulkan sinyal ECG yang bisa menggambarkan kondisi jantung pengguna.

Satu sinyal tersebut akan dipecah menjadi 80 parameter yang akan diproses oleh kecerdasan buatan (AI) dan menggambarkan kondisi jantungnya.

“AI akan membentuk model kecerdasan untuk memahami sinyal ECG tadi. Dari kesimpulan tadi, dapat terdeteksi kondisi jantungnya, ada penyakit apa, dan akhirnya dihasilkan rekomendasi, kondisi, dan sinyal ECG dapat diamati di handphone melalui aplikasi.” ujar Royyan.

Anggota Tim Urban Night ITB lainnya Nugroho Satriyanto mengklaim bahwa akurasi aplikasi kesehatan jantung buatannya ini bisa mencapai 80 persen.

Hanya saja, mereka mengaku masih banyak tantangan yang harus dihadapi terkait aplikasi tersebut.

Mereka masih mencari cara agar biaya pembuatan alat tersebut bisa dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, mereka juga masih tertantang untuk mengembangkan data jantung yang tak terbatas pada ECG saja. Harapannya data ini menjadi data yang dikelola dan dimiliki oleh Indonesia karena sejauh ini data set yang digunakan masih berasal dari luar negeri sehingga belum tentu akurat untuk diterapkan di dalam negeri.

Tak cuma itu, mereka juga berharap agar alat tersebut bisa dirancang dengan lebih akurat dan real time. (chs)

0 Comments

Leave a Comment

2

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register